Rabu, 28 September 2011

Kau

Kau cantik di sampingku. Tidak pun sama. Ada atau tanpa aku, tetap.

Menurutku, penipu paling tolol adalah orang yang bilang senyummu biasa saja. Jika sekarang ada yang mengajakku berkelahi, kuharap ia lelaki yang menurutmu tampan. Secantik-cantiknya kamu, mataku tetap berkedip. Tetapi bila ada yang lebih cantik dari kamu, aku malas melirik. Tapi coba aku bertanya, pernahkah ada yang mencintaimu karena kau cantik? Kuberitahu, kau lebih dari cantik. Itulah mengapa aku suka memandangimu. Agar Jika kelak kulitmu berkerut dan lemakmu tak terkendali, aku tidak lupa kalau kau pernah mulus dan juga kurus, namun cantik kepribadianmu tidak tergoncang.

Begitulah akunya kagum. Maka tidak berat untuk aku membunuh nyamuk, hewan tengik tak tahu santun yang berani-beraninya sentuh kulitmu. Dan aku akan menceritakan kecantikanmu kepada orang buta, dan oleh karena ceritaku, orang buta bisa tercengar-cengir. Tetapi seharusnya, cantik membuatmu menghargai diri sendiri dan bukan menghargakan kecantikan itu. Sebab karena kau sombong, orang bisa lupa kalau kau cantik.

Dengar! Aku tidak buta. Aku tahu kalau kau cantik. Dan karena aku bisa melihat, tampak jelas tebal bedakmu. Namun lepas dari pada itu, ketidakberbedakkanmu itu luar biasa.


-Zarry Hendrik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar